Survei Global: Transformasi Digital Terus Melaju di Indonesia

21 Juli 2017  |  20:05 WIB
Share this post :
Survei global dari Pure Storage bertajuk Evolution mengungkapkan sebanyak hampir 70% dari 200 bisnis di Indonesia yang terjaring sebagai responden menuturkan bahwa lebih dari separuh pendapatan yang mereka kantongi dihasilkan dari arus-arus digital pada bisnis mereka.

Bisnis.com, JAKARTA - Survei global dari Pure Storage bertajuk Evolution mengungkapkan sebanyak hampir 70% dari 200 bisnis di Indonesia yang terjaring sebagai responden menuturkan bahwa lebih dari separuh pendapatan yang mereka kantongi dihasilkan dari arus-arus digital pada bisnis mereka. Adapun hasil ini lebih tinggi dari angka rata-rata yang tercatat untuk kawasan Asia Pasifik dan Jepang, yakni sebesar 46%.

Survei ini mencatat meskipun saat ini Indonesia masih berada di tahap awal perjalanan digitalisasi, namun bisnis-bisnis terkoneksi tampaknya makin gencar memperkukuh strategi digital mereka. Hal ini membawa imbas yang cukup signifikan dari sisi ekonomi.

Pure Storage (NYSE: PSTG) merupakan vendor untuk platform data all-flash independen untuk cloud.. Chua Hock Leng, Managing Director for ASEAN and Taiwan, Pure Storage mengatakan jelas bahwa transformasi digital bukan gembar-gembor semata.

"Ini nyata adanya dan benar-benar terjadi. Transformasi digital akan berimbas pada seluruh bisnis di kawasan ini dalam jangka waktu beberapa tahun mendatang, sehingga memaksa mereka untuk berhitung kembali soal cara dan waktu mereka dalam mengkoleksi serta memanfaatkan data," katanya melalui rilis kepada Bisnis, Jumat (21/7/2017).

Lebih lanjut, dengan beralih ke digital, Indonesia diharapkan bisa meraup hingga USD150 miliar per tahun pada 2025. Adapun teknologi-teknologi yang tengah naik daun, seperti Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), serta machine learning menjadi pemicu bagi bisnis dalam mempercepat kesuksesan mereka beralih ke digital serta mendukung mereka dalam mengubah cara mereka mengoperasikan bisnis di tengah ekonomi digital saat ini.

Survei independen ini menjaring lebih dari 9.000 responden yang berasal dari kalangan pemimpin IT di organisasi-organisasi di seluruh dunia, mencakup 3.000 orang yang berasal dari perusahaan-perusahaan di Asia Pasifik dan Jepang.

Menurut survei, tercatat sebanyak 79% bisnis di Indonesia bergantung pada layanan-layanan digital dalam rangka mempercepat inovasi. Sementara itu, sebanyak 71% dari mereka yakin bahwa langkah tersebut akan mendukung mereka untuk tetap unggul dan kompetitif di kancah persaingan pasar yang kian sengit.

Namun di sisi lain, di tengah maraknya serbuan digital ini, bisnis-bisnis di Indonesia masih gamang dan belum pasti soal penerapan strategi IT yang optimal sebagai landasan yang mendukung mereka untuk bergegas menuju digitalisasi.

Masih banyak juga yang kurang jelas mengenai siapa yang harus mengemban tanggung jawab terkait kesuksesan penyelenggaraannya.

Adapun kompleksitas terkait hal-hal teknis dianggap sebagai kendala utama yang menghambat mereka dalam melaksanakan transformasi digital dan dianggap sebagai penghalang terbesar mereka beralih ke solusi-solusi digital, seperti disampaikan oleh 59% bisnis di Indonesia.

Rendahnya digital skillsets dianggap sebagai kendala terbesar berikutnya, seperti dituturkan 49% responden.

Kemudian, bisnis-bisnis di Indonesia tercatat mengoperasikan 36% dari aplikasi yang mereka gunakan di public cloud, 32% secara on-premises dan SaaS, dan sementara itu 31% di area private cloud.

Terlepas dari ketergantungan mereka pada public cloud, 46% perusahaan-perusahaan di Indonesia yang mengoperasikan workload mereka di lingkungan public cloud kini telah memindahkan sebagian ataupun keseluruhan dari workload kembali ke on-premises.

Angka ini lebih tinggi dari rata-rata perusahaan-perusahaan di seluruh kawasan Asia Pasifik dan Jepang (APJ) yang hanya mencatatkan angka sebesar 38%.

Selanjutnya, survei memprediksi on-premises storage tampaknya akan makin banyak digunakan oleh bisnis-bisnis yang lebih terdorong secara digital.

Sebanyak 61% perusahaan Indonesia yang separuh lebih pendapatannya diraup dari layanan-layanan digital berpandangan optimis bahwa pemanfaatan on-premises akan kian bertumbuh pada 18 bulan ke depan, sementara hanya 41% saja perusahaan yang kurang dari separuh pendapatannya dihasilkan dari layanan digital memiliki tingkat optimisme yang sama.

Kemudian, permasalahan keamanan dianggap sebagai kendala terbesar layanan public cloud bagi perusahaan di Indonesia, seperti dituturkan 58% responden, kemudian disusul aspek kesiagaan atau availability sebesar 36%, serta faktor performa sebesar 31%.

Lebih dari 60% departemen IT perusahaan di Indonesia mengungkapkan bahwa sejawat mereka di departemen lain, seperti di divisi product management, customer service, dan marketing dianggap memiliki pengaruh yang lebih signifikan terkait keputusan-keputusan teknologi kunci di perusahaan.

Chua Hock Leng menambahkan keunggulan yang dahulu dirasakan oleh organisasi perusahaan atas penerapan public cloud, kini tak lagi menjadi domain public cloud semata.

"Bisnis perlu memahami bagaimana mereka dapat memanfaatkan seluruh ekosistem data — baik cloud maupun on-premises — untuk menaruh data agar dapat dioperasikan dengan baik, serta menggali seluruh insight agar dapat menyuguhkan hasil terbaik seperti yang diidamkan oleh pelanggan,” katanya.

Riset bertajuk Evolution 2017 ini juga menyoroti beragam temuan menarik lainnya yaitu tren yang menunjukkan bisnis mulai mengalihkan workload mereka dari public cloud kembali solusi-solusi on-premises tak hanya dialami oleh mereka yang bergerak di Indonesia saja.

Terdapat 78% bisnis di Vietnam juga mengalami hal yang sama dan angka tersebut merupakan yang tertinggi di kawasan APJ - sementara 48% bisnis di Thailand juga melakukan hal yang sama.

Perusahaan-perusahaan di Australia dan New Zealand masih memiliki pandangan yang berbeda-beda mengenai solusi cloud. Terdapat 50% bisnis berencana memindahkan business critical workloads mereka ke public cloud dalam jangka waktu 18-24 bulan ke depan, dan selebihnya berencana mengadopsi solusi-solusi private cloud.